fbpx
[DID YOU KNOW] – Banten pada (2/8/2019) lalu diguncang gempa dengan kekuatan 6,9 Magnitudo. Bencana ini menewaskan sebanyak 5 orang dengan 4 orang luka-luka dan 1.050 orang mengungsi. Gempa dengan kedalaman 48 km ini juga berpotensi tsunami dengan perkiraan tinggi gelombang mencapai 0-3 meter.

Hasil gambar untuk gempa banten agustus 2019

Pada saat Banten mengalami kerusakan parah dan korban berjatuhan, suku Baduy justru hanya merasakan getaran dan tidak berdampak pada bangunan yang dihuni. Benarkah hal ini disebabkan karena rumah adat Baduy yang anti gempa?

Masyarakat Baduy atau Urang Kanekes merupakan kelompok etnis masyarakat adat suku sunda, mereka menempati wilayah pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Lewidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

Konon sebutan Baduy merupakan pemberian dari para peneliti Belanda yang melihat kemiripan masyarakat Desa Kanekes dengan penduduk Badawi yang terletak di Arab. Namun ada juga sumber yang mengatakan bahwa nama Baduy diambil dari nama sungai yang mengalir di Utara kampung Kenekes, yaitu sungai Cibaduy.

Suku Baduy terbagi menjadi Baduy Dalam dan Baduy Luar. Mereka berbeda dalam beberapa Hal seperti warna pakaian dan pengaruh budaya luar. Baduy Luar biasanya mengenkan busana berwarna hitam dan sudah terkenal dengan pengaruh budaya luar suku. Sedangkan Baduy Dalam berpakaian putih dan  menolak budaya luar masuk.

Dengan populasi sekitar 26.000, Kehidupan masyarakat Suku Baduy berjalan harmonis. Mereka dikenal dengan kearifan lokal serta adat istiadatnya dalam menjaga kelestarian alam.

Hasil gambar untuk nama rumah adat baduy

Sebenarnya apa yang membedakan rumah adat Baduy dengan rumah pada umumnya?

Rumah adat Baduy dibangun mengikuti kontur tanah sehingga mengurangi resiko jika terjajdi guncangan. Selain itu tinggi rumah menjadi tidak sama  antara satu dengan lainnya.

Pada dasar rumah adat, biasanya diberi batu yang diambil dari kali dengan tujuan mencegah rayap memakan kayu, teknik ini juga membuat bangunan menjadi kokoh dan tidak mudah roboh. Selain itu dapat mencegah masuknya air saat hujan deras karena posisi rumah menjadi lebih tinggi.

Hal mendasar terletak pada pemilihan material bahan bangunan yang tidak biasa. Rumah adat Sulah Nyanda menggunakan bahan yang lentur dan bersumber dari alam sekitar mereka tinggal. Bagi mereka alam sudah menyediakan segalanya, seperti penggunaan Kayu, Bambu, kiray dan Ijuk Kelapa sebagai atap rumah adat tersebut.  Dalam proses pembangunanya mereka memanfaatkan material yang lentur sera tidak menggunakan paku, melainakan menggunakan pasak dan tali ijuk.

Seperti alam melingkupi tempat tinggal mereka yang asri dan tetap terjaga kelestariannya. Mereka sampai detik ini masih percaya bahwa mereka ditakdirkan untuk menjaga harmoni alam. Kecintaan pada alam mereka tunjukan dengan menjaganya. Mereka memiliki hutan lindung dan sederet aturan dalam menjalani kehidupan harmoni dengan alam. Pepohonan tidak boleh ditebang sembarangan, sungai tidak dicemari dan mereka hanya memanfaatkan alam seperlunya.

Kita mungkin tidak bisa melakukan hal serupa, namun setidaknya kita semakin faham bahwa kita memiliki resiko besar terkena dampak bencana gempa bumi. Yuk lakukan persiapan dengan mengetahui apa yang harus dilakukan saat kondisi darurat dengan mengikuti pelatihan yang disediakan oleh Disaster Management of Indonesia (DMII).

#everyoneisalifesaver

(end)

Menu
X
X
Send this to a friend