fbpx

Rumah Adat, Upaya Mitigasi Bencana Ala Nenek Moyang

  1. Beranda
  2. Did You Know?
  3. Rumah Adat, Upaya Mitigasi Bencana Ala Nenek Moyang

dmii.or.id – Rumah Adat, Upaya Mitigasi Bencana Ala Nenek Moyang | Hai Sobat DMII! Pastinya kalian sudah tahu kan kalau rumah atau bangunan tahan gempa merupakan hal yang sangat penting di negeri ini. Mengingat Indonesia terletak di jalur Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire. Dari jaman nenek moyang kita dulu, upaya mitigasi bencana sudah mulai digencarkan, terbukti dari rumah tradisional tahan gempa yang sengaja dibangun para pendahulu agar mampu bertahan terhadap guncangan.

Rumah Adat, Upaya Mitigasi Bencana Ala Nenek Moyang

Mayoritas rumah tradisional menggunakan kayu sebagai bahan utama bangunan, mengingat pada masa lampau, semen atau bahan bangunan lainnya masih sulit didapatkan.


Gambar : kompasiana.com

Rumah Gadang Istano Baso Pagaruyung adalah salah satu contoh rumah tahan gempa dengan teknik adaptasi yang diwariskan oleh nenek moyang kita. Wah ternyata selain mengandung unsur budaya yang kental, rumah tradisional Indonesia juga berfungsi agar bisa bertahan dari bencana.

Rumah Gadang di daerah Sumatera rata-rata menerapkan konstruksi bangunan yang sama, yaitu berbahan kayu dengan menumpukkan batu di atas tiang utama. Lalu menggunakan pasak atau ikatan untuk menyambungkan dan merekatkan. Serta menggunakan sejenis ijuk sebagai atap ringan. Semua struktur bangunan dibuat selentur mungkin agar bisa meredam guncangan vertikal dan gaya horizontal gempa.  Karena letaknya di sepanjang zona Patahan.

Menurut mantan Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Gerakan Tanah, Gede Suantika dalam artikel bertajuk “Siaga di Laut, Bahaya di Bawah Selimut”, patahan merupakan sumber gempa. Energi gempa dari patahan memang tak seberapa besar daripada gempa yang dihasilkan dari tumbukan antar lempeng. Namun bahayanya tak bisa dianggap enteng karena banyak patahan berada tepat di bawah kota, di bawah rumah-rumah.


Gambar : Twitter BNPB

Meskipun sama-sama rumah panggung, tiang-tiang rumah panggung di sepanjang aliran Sungai Musi, Palembang tidak ditumpukkan di atas batu. Namun di tanam di dalam tanah karena letaknya di rawa-rawa. Perbedaan ini menunjukkan teknik bangunan yang sengaja di desain oleh para pendahulu agar mampu merespons gempa atau biasa disebut dengan rumah Vernakuler.

Rumah Vernakuler mengedepankan konsep respon lingkungan dan respon sumber daya lokal. Bangunan pun dibuat terbuka untuk berubah agar bisa bertahan. Sedangkan rumah modern biasanya mengabaikan konteks lokal dan bergaya seragam. (Amos Raport : House, Form and Culture – 1996).

Baca: 7 Model Rumah Tahan Gempa…..

Selain gempa, desain atap rumah Gadang yang runcing dan lancip juga berfungsi untuk menahan curah hujan tinggi agar tidak membebani bangunan di bawahnya. Keren ya?

Ketahanan rumah adat terhadap gempa juga dibuktikan oleh beberapa peneliti yang mendokumentasikan rumah-rumah adat berusia ratusan tahun yang masih kokoh berdiri meski berulang kali diterjang gempa. Namun mirisnya, rumah tahan gempa yang tersusun dari tiang yang sengaja dibuat miring dan disambung dengan teknik pasak tanpa paku ini, mulai ditinggalkan masyarakat modern.

Selain harga kayu berkualitas yang relatif mahal, masyarakat modern menganggap rumah yang dibangun dengan tembok batu merupakan simbol kemajuan daerah adalah alasan punahnya rumah tradisional tahan gempa. Sedih ya?

Sobat DMII, yuk kita lestarikan budaya nusantara dengan mewarisi teknik dan konstruksi bangunan tradisional. Untuk diterapkan pada rumah atau bangunan tahan gempa yang kita bangun dikemudian hari nanti. Upaya mitigasi bencana bisa dimulai dari hal-hal kecil lho, salah satunya mempelajari sejarah.

(Zheo)

Sumber : Tirto.id, Medcom.id, jelajah.kompas.id

Menu
X
X
Send this to a friend