fbpx

Baca selengkapnya JELAJAH KOTA LUWU UTARA BAGIAN 2

Setelah mengetahui tentang beberapa tempat wisata di Luwu Utara, tidak ada salahnya untuk mengetahui lebih jauh lagi tentang apa aja sih makanan khas di Masamba, Luwu Utara? Berikut adalah beberapa makanan khas Masamba, Luwu Utara :

  1. Pagulu (Kapurung) merupakan sajian makanan lokal yang berisi sagu dan aneka sayuran rebus. Sayurannya berupa kacang panjang, bayam atau irisan jagung. Kapurung biasanya disajikan dengan kuah segar yang kecoklatan.

  1. Dangkot atau bahasa lainnya adalah daging kotte (hewan itik). Dangkot terbuat dari daging itik yang dipotong-potong, lalu digoreng dengan jahe, serai dan cabe rawit yang dihaluskan.

  1. Binte merupakan makanan khas Masamba yang bentuknya seperti sup. Binte menggunakan jagung manis sebagai bahan dasarnya. Binte juga dilengkapi dengan cabai rawit, bawang, merica, kecap, jeruk nipis, ikan cakalang dan udang.

Luwu Utara merupakan kabupaten yang memiliki kawasan hutan paling luas di Sulawesi Selatan. Kawasan hutan yang luasnya mencapai lebih dari dua per tiga (72,86%) wilayah Kabupaten Luwu Utara. Dari sekitar 1.045.273 ha hutan yang ada di Kabupaten Lawu utara, 5 % merupakan hutan lindung, 15% merupakan cagar alam, dan sisanya 30% merupakan hutan produksi terbatas. Potensi hutan yang ada di Kabupaten tersebut adalah sebanyak 29.044.000 m3 kayu bulat, 21.539.000 m3 kayu gergajian, 15.000 m3 veneer, 25.000 ton damar (resin) dan sekitar 30.000.00 ton rotan.

POTENSI BENCANA DI LUWU UTARA

Pusat Studi Kebencanaan Universitas Hasanuddin (UNHAS) telah melakukan kajian tentang daerah Masamba dan sekitarnya di Luwu Utara, Sulawesi Selatan dan menyimpulkan daerah yang berpotensi bencana itu, akibat pembentukannya dari erosi dan sedimentasi sekitar ribuan tahun. Kepala Pusat Studi Kebencanaan UNHAS dan Pakar Petrologi dan Geologi Prof. Dr. Eng Adi Maulana, ST. Mphil, di Makassar, Jumat (17/7/2020) mengatakan potensi bencana banjir di seluruh daerah di Sulsel sejak 2019 sudah ditunjukkan pada Journal of Physic. Salah satu daerah yang berpotensi banjir dengan tingkat resiko tinggi adalah daerah Luwu Utara, khususnya daerah Masamba dan sekitarnya.

Daerah Masamba dan sekitarnya merupakan daerah pedataran yang sangat luas, terbentuk dari proses erosi dan sedimentasi selama ribuan, bahkan jutaan tahun. Menempati luas areal sekitar 50 km x 30 km, pedataran ini disusun oleh material alluvial, dengan sumber dari batuan berupa material-material yang berasal dari pegunungan di bagian utara, timur dan baratnya. Sedangkan di bagian utara dan baratnya, lanjut Adi, terdapat pegunungan yang disusun Formasi Kambuno, berupa batuan dengan komposisi granitik samoai dengan dioritik, sementara pada bagian timurnya disusun oleh pegunungan dengan komposi batuan metamorfik dari Kompleks Pompangeo.

Menurut dia, kondisi morfologi daerah ini bagaikan cekungan kecil yang diapit oleh pegunungan di bagian utara, timur dan barat dan dibatasi oleh teluk Bone di bagian selatanya. Terdapat setidaknya tiga sungai besar dan beberapa sungai kecil yang mengalir memotong daerah pedataran luas ini dari utara ke selatan. Sungai-sungai ini terbentuk oleh akibat patahan-patahan atau sesar sekitar Pliosen atau 2 juta tahun yang lalu. Patahan-patahan ini terjadi akibat proses tektonik pembentukan Pulau Sulawesi. Sejalan dengan waktu, patahan-patahan tersebut membentuk aliran sungai. Pada daerah hulu, proses pelapukan sangat intens terjadi, dibuktikan dengan tebalnya soil atau tanah tutupan yang mencapai 5-7 meter. Akibatnya, terjadi proses sedimentasi pada sungai tinggi. Kondisi ini menyebabkan kondisi sungai secara umum terganggu.

PENYEBAB LUWU UTARA SERING DIHAMPIRI BANJIR

Pembukaan lahan menyebabkan tanah menjadi rentan terhadap erosi permukaan dan menyebabkan berkurangnya vegetasi. Akibatnya tanah di bagian hulu menjadi jenuh dan tidak mampu lagi untuk menyerap air hujan dengan baik (presipitasi) menjadi semakin berkurang. Terbukanya lahan juga menyebabkan proses erosi semakin tinggi dan menghasilkan tumpukan material sedimen yang semakin besar. Kemudian tumpukan ini mengisi saluran sungai dan terendapkan pada dasar sungai. Sehingga menjadikan kapasitas atau volume sungai menjadi berkurang atau terjadi pendangkalan.


Berdasarkan hasi analisa sementara Direktorat Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung KLHK mengatakan, ada dua faktor penyebab banjir bandang yakni, alam dan manusia. Faktor manusia, adalah pembukaan lahan di hulu DAS Balease dan penggunaan lahan masif berupa perkebunan sawit.

Doni Monardo, Kepala BNPB menyatakan, adanya alih fungsi hutan jadi lahan untuk pertanian dan pertambangan di hulu, yakni, di bagian atas Gunung Lero. Ada pula dugaan penyerapan air ke dalam tanah tidak terjadi maksimal saat hujan lebat akibat hulu gundul. Sehingga menyebabkan air mengalir bebas menerjang di bagian hilir dan pemukiman padat penduduk.

Kejadian awal bencana ini terjadi pada tanggal 12 Juli, yaitu terjadi hujan lebat sekitar kurang lebih 10 jam, dari malam hingga subuh pada 13 juli. Siang, 13 juli hujan susulan datang hampir 8 jam. Sampai pada tanggal 19 Juli ada enam kecamatan terdampak, yakni, Masamba, Sabbang, Baebunda, Baebunta Selatan, Malangke, dan Malangke Barat. Kecamatan Masamba adalah salah satu daerah terdampak banjir limpasan tinggi hingga ekstrem paling parah. Pada tanggal 19 Juli, tercatat sekitar 38 orang meninggal dunia, dan 46 orang hilang pada bencana ini. Sebanyak 14.483 jiwa atau 3627 keluarga mengungsi di 76 titik dan tersebar di 3 kecamatan.

Demikianlah beberapat pengenalan mengenai Masamba, Kabupaten Luwu Utara serta beberapa rangkuman kejadian bencana alam yang terjadi di Masamba belum lama ini. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari segala bencana yang terjadi di bumi ini dan jangan lupa sobat DMII, everyone’s a life saver. (Aulya)

Menu
X
X
Send this to a friend