fbpx

Hibernasi 10 Tahun, Sinabung Kembali Erupsi

  1. Beranda
  2. Berita
  3. Hibernasi 10 Tahun, Sinabung Kembali Erupsi

dmii.or.id – Hibernasi 10 Tahun, Sinabung Kembali Erupsi | Gunung Sinabung yang terletak di Kabupaten Karo, Sumatera Utara termasuk dalam gunung api aktif di Indonesia. Gunung dengan ketinggian 2.460 mdpl kembali erupsi sebanyak dua kali dalam satu hari. Pada Senin pagi (10/8/20) pukul 10.16 WIB gunung api ini mengeluarkan letusan pertamanya. Letusan pertama dengan tinggi kolom abu mencapai -+ 5.000 meter di atas puncak. Kemudian, disusul dengan letusan kedua pukul 11.17 WIB dengan kolom abu setinggi -+2.000 meter di atas puncak.

Hibernasi 10 Tahun, Sinabung Kembali Erupsi

Menurut Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Sinabung, Badan Geologi, dan PVMBG Armen Putra mengatakan, erupsi Gunung Sinabung meyebabkan kolom abu berwarna cokelat gelap dan mengarah ke timur dan tenggara. “Warga yang terdampak abu vulkanik kami imbau agar melindungi diri dengan menggunakan masker. Juga kami imbau mengurangi aktivitas di luar rumah,” kata Armen.

Setelah terjadi dua kali letusan erupsi Sinabung, belum ada perubahan status kewaspadaan. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan Gunung Sinabung tetap masih berada pada status level III (Siaga). Status ini ditetapkan sejak 20 Mei 2019. Dengan status Siaga tersebut, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di area desa-desa yang sudah direlokasi, lokasi di radius radial 3 km dari puncak Gunung Sinabung, radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara.

Akibat erupsi Sinabung, laporan pemantauan pada pukul 12.00-18.00 WIB 10 Agustus 2020 yang disiarkan laman Magma Indonesia menunjukkan sejumlah jenis gempa terjadi. Selama periode itu, Gunung Sinabung mengalami 19 kali gempa Hembusan dengan amplitudo 5-80 mm, dan durasinya selama 20-75 detik. Masih pada rentang jam yang sama, terjadi pula 2 kali gempa Vulkanik Dalam. Gempa dengan amplitudo 6-13 mm, S-P 1.2-1.3 detik dan lama gempa 10-13 detik. Selain itu, selama pukul 12.00-18.00 WIB 10 Agustus 2020, tercatat ada satu kali gempa Tremor Menerus dengan amplitudo 2-6 mm dan dominan 2 mm di Gunung Sinabung. Sementara asap kawah tidak teramati meskipun cuaca di sekitar puncak cerah hingga mendung.

 

Erupsi Pertama Pada Tahun 2020

Letusan pada Senin pagi merupakan letusan ketiga Gunung Sinabung pada tahun 2020. Pada 8 Agustus 2020 pukul 01.58 WIB Gunung Sinabung meletus untuk pertama kalinya pada tahun 2020. Letusan pertama ini mengeluarkan abu vulkanik setinggi 2.000 meter di atas puncak. Kemudian, letusan kedua terjadi pada hari yang sama pukul 17.18 WIB dengan mengeluarkan  abu vulkanik sejauh 1.000 meter di atas puncak.  Dua letusan terjadi pada hari yang sama (8/8) juga terulang pada hari kedua letusan (10/8). Hingga hari ini,  Gunung Api Sinabung tercatat sudah empat kali erupsi dalam kurun waktu tiga hari pada tahun 2020.

Berdasarkan analisis PVMBG, erupsi Sinabung pada 8 Agustus lalu termasuk dalam jenis letusan freatik. Sebab, erupsi pada 8 Agustus 2020 tidak didahului oleh kenaikan gempa-gempa vulkanik yang signifikan. Hal itu menandakan tidak ada suplai magma ke permukaan kawah Gunung Sinabung. “Erupsi yang terjadi pada 8 Agustus 2020 lebih diakibatkan oleh overpressure dan aktivitas permukaan,” demikian kesimpulan PVMBG.

Baca: Satu Dasa Warsa Erupsi Sinabung

Dampak erupsi Sinabung, abu vulkanik terbang hingga ke pemukiman warga, terutama Kota Berastagi. Salah seorang warga mengatakan, “tebalnya abu vulkanik menyebabkan jalan raya di seputaran Kota Berastagi tertutup dan sejumlah pengguna jalan merasa terganggu.” jelas Bobby.

Tak hanya Kota Berastagi, kurang lebih ada tiga kecamatan di Kabupaten Karo juga terpapar abu vulkanik. Pemerintah daerah sekitar telah mendistribusikan bantuan masker dan air bersih bagi warga terdampak dan juga menghimbau kepada warga agar tetap berada di dalam rumah.

PVMBG  meminta masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar . Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. “Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh,” pinta PVMBG.

Sumber: Magma Indonesia dan Tirto.id

Menu
X
X

Send this to a friend