fbpx

FENOMENA ANGIN KENCANG HANCURKAN RUMAH DAN ROBOHKAN PEPOHONAN

  1. Home
  2. Berita
  3. FENOMENA ANGIN KENCANG HANCURKAN RUMAH DAN ROBOHKAN PEPOHONAN

Jakarta, DMII – Beberapa wilayah di Indonesia khususnya pulau Jawa dan Pulau Bali sedang dilanda angin kencang. Beberapa diantaranya juga disertai debu coklat pekat.  Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memaparkan sejumlah faktor yang menjadi penyebab fenomena ini.

Angin kecang telah merusak sejumlah rumah dibeberapa wilayah, diantaranya dua desa  di Kabupaten Tegal, Kecamatan Bumijawa pada Sabtu (19/10) malam sekitar pukul 22.00 WIB. Dua desa tersebut adalah desa Batumirah dan Dusun Sawangan Desa Sigedang. Tercatat 10 rumah warga rusak dan pohon-pohon tumbang menutup akses komunikasi.

Hasil gambar untuk angin kencang di Bumijawa tegalRumah rusak di Kecmatan Bumijawa, akibat Angin kencang pada Sabtu (19/10) malam sekitar pukul 22.00 WIB

Kejadian serupa terjadi di Desa Sumber Brantas, Kota Batu, Malang Raya, Jawa Timur. Angin menyerang pada Sabtu malam (19/10) pukul 23.30 WIB. Akibatnya pepohonan tumbang dan menimpa salah seorang warga hingga meninggal. Selain itu banyak diantara warga juga mengeluh sesak nafas akibat terpapar debu yang turut dibawa oleh angin tersebut. Kejadian ini tentunya membuat aktivitas warga hampir 100 persen lumpuh.

Hasil gambar untuk angin kencang di Desa Sumber Brantas Malang Jawa timurAngin disertai debu yang melanda Desa Sumber Brantas, Kota Batu, Malang Raya, Jawa Timur pada Sabtu malam (19/10) pukul 23.30 WIB

Bukan tanpa sebab, fenomena ini disebabkan oleh tiga faktor seperti yang diungkapkan oleh Siswanto, Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG.

Faktor utama fenomena ini adalah angin timuran monsun Australia di atas Laut Jawa dan Samudera Hindia di Selatan Jawa

“ Angin Monsun Australia yang aktif dan dominan berada di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara menjadi penyebab iklim yang lebih kering dan terlambatnya kedatangan awal musim hujan” Ungkap Siswanto.

Menurutnya, Monsun Afrika dan Australia biasanya muncul pada bulan April dan Oktober yang diakibatkan oleh penguatan kecepatan angin akibat kuatnya pusaran tekanan tinggi di Samudera Hindia tengah bagian sekitar kepulauan Mascarene atau MH (Mascarene High).

Faktor lain yang menyebabkan fenomena ini adalah pergerakan semu matahari secara tegak lurus dengan permukaan bumi atau biasa disebut kuluminasi.

Menurut Siswanto, Kuluminasi bisanya terjadi pada 10-16 Oktober berlokasi di Jawa dan Bali. Bisanya suhu udara permukaan akan tinggi dan menyebabkan turunnya tekanan udara di permukaan sehingga udara akan mengalir menuju wilayah dengan suhu panas tersebut.

Faktor ketiga dari fenomena ini adalah respons cuaca lokal, terutama wilayah pegunungan terhadap peningkatan kecepatan angin.

Kecepatan angin yang lebih kuat pada lapisan atmosfer memicu sirkulasi lokal berupa angin gunung dan angin lembah didaerah berkontur daratan bukit. Bentuk lereng dan permukaan pegunungan juga mempengaruhi bentuk pusaran angin dan skala pusrannya.

“Dengan kondisi dan kecepatan angin seperti ini, angin dapat menerbangkan material ringan apabila melintasi daerah berpasir atau tanah kering.” kata Siswanto.

Menu
X
X
Send this to a friend