fbpx

Daryono BMKG: Gempa Kembar Bengkulu Tidak Berpotensi Tsunami, Tapi…

  1. Beranda
  2. Berita
  3. Daryono BMKG: Gempa Kembar Bengkulu Tidak Berpotensi Tsunami, Tapi…

 

dmii.or.id – Daryono BMKG: Gempa Kembar Bengkulu Tidak Berpotensi Tsunami, Tapi… | Gempa bumi berkekuatan 6,8 M dan 6,9 M pagi tadi mengguncang Provinsi Bengkulu. Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono menyampaikan, dua gempa berkekuatan besar itu disebut sebagai gempa “doublet”.

“Gempa kembar atau ‘doublet earthquake’ adalah peristiwa dua gempa yang magnitudo atau kekuatannya hampir sama, dan terjadi dalam waktu dan lokasi yang relatif berdekatan,” ujar Daryono.

Gempa ini terjadi dengan waktu yang sangat berdekatan, hanya berselang enam menit. Gempa pertama berkekuatan 6,8 M terjadi pukul 05.23 WIB di kedalaman 24 km. Gempa bumi terletak pada koordinat 4.44 LS dan 100.97 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 160 km arah barat daya Bengkulu.

Sementara, gempa kedua berkekuatan 6,9 M terjadi pukul 05.29 WIB di kedalaman 86 km. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 3.98 LS dan 101.22 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 117 km arah barat daya Bengkulu.

Sementara, guncangan gempa paling kuat terasa di wilayah dekat pusat gempa yaitu di Kota Bengkulu, Bengkulu Utara, Mukomuko, Seluma, dan Kepahiang dalam skala intensitas IV MMI. Skala intensitas IV MMI artinya getaran dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, di luar oleh beberapa orang. Ditandai dengan gerabah pecah, jendela/pintu berderik dan dinding berbunyi. Dengan intensitas tersebut, dilaporkan warga di Bengkulu sempat lari berhamburan keluar rumah akibat panik karena guncangan kuat yang terjadi secara tiba-tiba.

Kabarnya gempa tersebut juga terasa  hingga ke Singapura dan Serpong, Tangerang menurut  laporan warga yang bertinggal di apartemen. Hal tersebut mungkin terjadi karena adanya vibrasi periode panjang dari gelombang gempa.

BMKG menjelaskan, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa kedua gempa bumi tersebut memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault).

“Saat rilis energi bersama, timbul perubahan positif di dekat lempengan itu. Kebetulan di sana (megathrust) juga sedang terjadi pergerakan sehingga gempa pertama memicu gempa kedua,” ucap Daryono.

Namun, Daryono mengungkapkan, kondisi ini patut disyukuri karena gempa kembar ini berkekuatan 6,8 M dan 6,9 M sehingga hasil pemodelan tidak berpotensi tsunami. Umumnya, gempa dengan mekanisme sumber sesar naik dengan kedalaman dangkal jika kekuatannya di atas 7,0 M dapat berpotensi tsunami.

Setelah gempa kembar di Bengkulu pagi tadi, BMKG mencatat delapan gempa susulan  dengan kekuatan terkecil 3,4 M dan magnitudo terbesar 4,9 M. Daryono juga mengatakan, Bengkulu pernah diguncang gempa kembar pada 12 September dan 13 September 2007. Gempa ini terjadi akibat pecahnya segmen Enggano, yang menjalar dari utara Enggano sampai ujung Siberut. Saat itu, gempa mengakibatkan sebanyak 25 orang meninggal dunia dan 92 orang luka-luka. Bahkan, gempa ini dirasakan hingga Singapura, Malaysia dan Thailand.

Akankah gempa tersebut terulang lagi dalam waktu dekat? Siapkah kita menghadapi gempa bumi? Terjadinya gempa bumi tidak dapat diprediksi sementara kita dapat berikhtiar mengurangi risikonya dengan memahami mitigasinya.  Everyone’s a life saver. (Ripang)

 

Sumber: Kompas.com

Menu
X
X

Send this to a friend