fbpx

ABDUL MUHARI BNPB: BANGUNAN TAHAN GEMPA, BELUM TENTU TAHAN TSUNAMI

  1. Beranda
  2. Berita
  3. ABDUL MUHARI BNPB: BANGUNAN TAHAN GEMPA, BELUM TENTU TAHAN TSUNAMI

Source: antaranews.com
dmii.or.id, JAKARTA – ABDUL MUHARI BNPB: BANGUNAN TAHAN GEMPA, BELUM TENTU TAHAN TSUNAMI | Setelah pemaparan Webinar seri ketiga dengan tema “Potensi dan Dampak Tsunami di Pesisir Selatan Jawa – Bali – Nusra”  mengenai definisi dan potensi tsunami di Nusa Tenggara termasuk juga karakteristik dan hal-hal teknis di dalamnya oleh Eko Pradjoko, ST, M.Eng, Ph.D, pembicara kedua, Abdul Muhari, Ph.D melengkapi dengan penjelasan  mengenai dampak dan upaya mitigasi gempa bumi dan tsunami.

ABDUL MUHARI BNPB: BANGUNAN TAHAN GEMPA, BELUM TENTU TAHAN TSUNAMI

“Rata-rata hampir 2-4 menit sekali terjadi gempa di Indonesia, tapi sebarannya, kapan, seberapa besar dan dimananya kita tidak tahu di mana.” ungkap Abdul Muhari, Ph.D (Plt Direktur Pemetaan dan Evaluasi Bencana), seraya menampilkan data gempa yang terjadi di Indonesia.

“Hampir 95% Tsunami disebabkan oleh gempa, namun gempa yang membangkitkan Tsunami juga bervariasi,” imbuhnya.

Selanjutnya, Muhari menampilkan gambar yang berisi data dari Pusat gempa di Indonesia “Pusat Gempa Nasional sudah memberi acuan/kajian zona megathrust mana dengan kekuatan berapa. Sudah banyak peneliti yang melakukan modelling exercise.”

Dalam materinya, dia juga mengambil pelajaran dari Tsunami Jepang di tahun 2011. Yaitu, meski banyak bangunan di Jepang yang tahan gempa, belum tentu tahan Tsunami. Struktur bangunan yang tahan gempa memang aman, namun ketika diterjang tsunami, bangunan tidak rusak tapi tercabut dari pondasinya. Untuk itulah Building Fragility menjadi hal yang penting untuk dipelajari sebagai masukan tata ruang bangunan perumahan di daerah pesisir.

Selain perumahan, Pelabuhan juga menjadi area berdampak saat tsunami. Kapal nelayan, kapal ikan dan lain sebagainya, akan terbawa ke darat apabila tidak ada mitigasi bencana.

“Hampir 650 pelabuhan di pesisir utara Jepang dengan lebih dari 24.000 kapal, kita kaitkan dengan kerusakan kapal versus ketinggian dan kecepatan tsunami. Jika gelombang tsunami minimal 1.9m dengan kecepatan 2.10m, maka kapal akan terbawa, berapapun besarnya akan berpotensi floating dan terbawa ke darat dan terjadi damage. Ini yang harus kita waspadai.” Ujar Muhari

“Sehingga mitigasi kapal dan kerusakan kapal harus diupayakan sebelum tsunami datang ke Pelabuhan, kapal harus keluar Pelabuhan. Karena ketika tsunami datang, kecepatan tsunami tidak bisa ditandingi kapal. Maka kita perlu meniru Jepang yang tidak hanya menyediakan peta bahaya tsunami, tapi juga Hazard Map untuk kapal. Sehingga kita bisa memetakan beberapa skenario dan membebaskan kapal dari zona merah ketika ada peringatan.”

Dia menambahkan, “Selamatkan diri sendiri, sebelum menyelamatkan orang lain. Karena jika anda tidak memastikan keselamatan diri sendiri, mustahil anda bisa menyelamatkan orang lain.”

Bencana bisa datang kapan dan dimana saja. Mari bersiaga, ayo kurangi resiko bencana dan pahami mitigasinya bersama DMII-ACT . Everyone is a life saver. (Zheo)

Menu
X
X
Send this to a friend