ACTNews,SAMARINDA – Tim Disaster Management Institute of Indonesia/DMII-ACT bersama Sampoerna untuk Indonesia, menggelar Worshop Penyusunan Rencana Kontinjensi (Renkon) Banjir untuk dua KSB di Samarinda, yaitu:  KSB Kecamatan Sungai Pinang dan KSB Kecamatan Samarinda Utara, di Aula Kecamatan Sungai Pinang, pada Sabtu-Minggu,19-20 Maret 2016.

Workshop ini merupakan rangkaian Program Pelatihan Kesiapsiagaan Bencana untuk Komunitas, buah sinergi Sampoerna untuk Indonesia dan ACT. Workshop melibatkan tim KSB dari 7 Kelurahan di Kecamatan Sungai Pinang dan Kecamatan Samarinda Utara. Ke-7 Kelurahan tersebut adalah: Kelurahan Bandara, Mugirejo, Sungai Pinang Dalam, Temindung Permai, Kelurahan Gunung Lingai, kelimanya berada di Kecamatan Sungai Pinang, dan 2 Kelurahan di Kecamatan Samarinda Utara: Kelurahan Lempake dan Kelurahan Sungai Siring.

Menurut Insan Nurrohman, Vice President ACT, renkon bencana level Kecamatan ini, merupakan turunan dari renkon level Kota Samarinda, yang draftnya sudah disusun bersama seluruh stakeholder penanggulangan bencana Kota Samarinda, di pertengahan bulan Februari 2016 lalu. “Bedanya cuma levelnya saja. Renkon Kecamatan lebih teknis dengan lingkup lebih sempit, tapi merujuk pada renkon Kota. Dengan begitu ada sambungannya,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, pada 9-11 Februari 2016 lalu, Sampoerna untuk Indonesia bersama ACT menggelar Pelatihan Kesiapsiagaan Bencana untuk Komunitas Masyarakat, yang outputnya berupa draft awal renkon banjir Kota Samarinda.

Kemudian dilanjutkan dengan pembentukan Kelompok Siaga Bencana (KSB) di 7 Kelurahan di Kecamatan Sungai Pinang dan Kecamatan Samarinda Utara. Disusul dengan Pelatihan keahlian bagi 7 KSB tersebut di Kebun Raya Unmul Samarinda (KRUS) pada tanggal 11-13 Maret 2016.

“Pada Workshop renkon 7 KSB di Kecamatan Sungai Pinang dan Samarinda Utara ini ada sedikit penyesuaian. Idealnya semua KSB akan susun renkon banjir level Kelurahan, sebagai turunan dari renkon banjir level Kota Samarinda. Namun, karena ada kondisi khusus berupa meningkatnya kejadian kebakaran pemukiman di sekitar Samarinda Utara dan Sungai Pinang, maka kami coba arahkan masing-masing KSB bikin renkon dengan hazard yang berbeda-beda, ada yang renkon banjir, dan ada juga yang garap renkon kebakaran,” kata Wahyu, Kepala DMII-ACT.

Camat Sungai Pinang, Muhammad Fahmi (52), dalam sambutannya menyatakan harapannya, agar para peserta di 7 KSB bisa mendapat banyak pelajaran positif dari semua rangkaian kegiatan KSB yang digelar oleh Sampoerna untuk Indonesia dan ACT.

“Sungai Pinang ini Kecamatan dengan populasi penduduk terbanyak di Samarinda. Hampir 100 ribu jiwa, dengan 25 ribu Kepala Keluarga/KK dan 247 RT. Tidak mungkin bila masalah yang ada di Sungai Pinang, semua harus diselesaikan oleh Pemerintah Kecamatan. Kami (Pemerintahan-red) pun punya banyak keterbatasan. Untuk itu kami berharap para warga yang tergabung dalam 7 KSB ini bisa mendapat banyak pelajaran, dan bisa dipraktekkan langsung saat terjadi bencana,” harap Fahmi.

Di akhir workshop ini, dibentuk Sekretariat Bersama (Sekber) 7 KSB, untuk memudahkan koordinasi dengan Camat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah/BPBD Kota Samarinda, MRI Kaltim, dan stakeholder lainnya.

Maka Disepakatilah oleh seluruh peserta KSB sebagai Koordinator Sekbernya adalah  Hardian MS, warga Kelurahan Mugirejo, Kecamatan Sungai Pinang, yang juga menjabat sebagai Ketua KSB Mugirejo.

Selain koordinasi lintas sektor, tugas Sekber juga untuk mengelola asset KSB berupa 1 paket perahu karet lengkap dengan peralatan pendukung water rescue, dan 4 unit alat komunikasi HT, yang merupakan bantuan dari Sampoerna untuk Indonesia.[]

Penulis: Wahyu Novyan
Editor: Muhajir AR