ACTNews, SEMARANG – Aksi Cepat Tangap (ACT) Cabang Semarang bersama Disaster Management Institute of Indonesia/DMII – ACT, kembali menggelar “Volunteer Camp” Edisi ke-4. Kali ini camp berlangsung di Bukit Cinta, Rawa Pening, Ambarawa, Semarang selama dua hari, Sabtu  dan Minggu (20 – 21/2).

Sebanyak 142 orang mendaftar dari berbagai wilayah di sekitar Semarang, juga Yogyakarta, Bogor dan Jakarta, dalam pelatihan intensif menjadi relawan dengan keterampilan dan pengetahuan paripurna tentang kebencanaan.

Acara ini juga dalam rangka program rekrutmen relawan untuk wilayah Semarang dan sekitarnya. “Bekerjasama dengan ACT Cabang Semarang, acara pelatihan ini untuk menjawab tantantangan kebencanaan dan kemansuiaan yang berada di wilayah Semarang khususnya, dan Jawa Tengah pada umumya.  Alumninya nanti akan menjadi cikal-bakal terbentuknya Masyarakat Relawan Indonesia Wilayah Jateng,” terang Muhammad Affan, Penanggungjawab Volunteer Camp dari DMII-ACT.

Lebih jauh Affan menjelaskan materi pelatihan selama dua hari dalam Volunteer Camp ini, dalam acara ini peserta akan mendapatkan pemahaman bagaimana menguasai pengetahuan dan keterampilan tentang mitigasi, saat bencana terjadi dan menangani situasi pascabencana di sebuah lokasi. “Ada materi penguasaan skill untuk fire rescue menggunakan alat pemadam sederhana dan alat standar. Ada juga water rescue, teknik mendayung, cara menyelamatkan dan mengevakuasi korban dari air,” jelas Affan.

Para traineer, imbuh Affan, mengemas semua materi pelatihan–Capacity Building & Outbound Based on Disaster Games, Camping Ground, Duty Commitment–dengan cara fun dan semenyenangkan mungkin untuk para peserta selama dua hari. Selain ada juga materi-materi seperti  Sharing Session tentang Relawan dan Kerelawanan dan Pembentukan Karakter Korsa relawan.

Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang, Sumarjito, SH.MM., yang bertindak sebagai Komandan Upacara pembukaan acara ini mengatakan, kehadiran relawan di Kabupaten Semarang memang sangat dibutuhkan mengingat kondisi geografis di kabupaten ini rawan bencana. Yang paling kerap terjadi, tutur Sumarjito, adalah bencana longsor dan kebakaran hutan di areal pegunungan Merbabu. “Dengan pelatihan ini tentu Semarang akan semakin kuat dalam merespon bencana. Selama ini kami terbantu dengan keberadaan relawan-relawan ini,” jelas Sumarjito.

Menambahkan Sumarjito, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Yonata K., S.Sos,M.Ikom., kehadiran relawan-relawan dari Volunteer Camp tentu sejalan dengan paradigma penanggulangan bencana yang pengurangan resikonya perlu melibatkan sebanyak mungkin masyarakat dan stakeholder. “Lewat kegiatan seperti ini artinya masyarakat dapat berperan aktif dan memberikan manfaat lebih dalam urusan kemanusiaan dan penganggulangan bencana,” katanya.

Mengamini kedua pejabat terkait di wilayah Semarang tersebut, Insan Nurrohman, Vice Presiden-ACT menyatakanVolunteer Camp yang keempat ini menjadi bagian dari misi ACT untuk terus merespon kejadian bencana di negeri rawan bencana seperti Indonesia yang bisa datang kapan pun. Acara pelatihan ini, katanya, bukan hanya agar peserta mampu menghadirkan jiwa kerelawanan seperti yang dicontohkan oleh para pendiri dan pejuang bangsa, namun juga merespon kejadian bencana serta problem-problem kemanusiaan di negeri ini. “Siapa tahu di masa datang nanti alumni camp ini jadi pemipin di Jawa Tengah, karena mengerti dan paham dengan hal yang berkaitan kerelawanan maka menjadi leader yang sadar dan bisa merespon bencana alam maupun kemanusiaan dengan baik di wilayahnya,” ujarnya.

Peserta Volunteer Camp ke-4 ini bukan hanya berasal dari berbagai wilayah diluar Semarang, namun juga diikuti oleh berbagai kelompok usia. Parmono (40) misalnya, lelaki yang kesehariannya bekerja sebagai sekuriti ini tertarik mengikuti camp karena lingkungan di sekitar rumahnya kerap mengalami musibah longsor.“Saya ingin bermanfaat bagi orang lain terutama lingkungan di skeitar saya sendiri. Semoga setelah ini masih ada pertemuan lanjutan atau pelatihan lanjutan lagi ya. Pokoknya saya saya siap diajak turun (merespon bencana),” katanya.

Lain lagi motivasi Melda Naomi (19) mahasiswi Poltekkes Jakarta dan Dea Sarahsanti (19) dari Univervitas Negeri Jakarta, yang khusus datang dari Jakarta ke Semarang. Mereka berdua mengaku sudah membayangkan acaranya akan berlangsung seru dan pasti bertemu dengan kawan-kawan baru dari berbagai daerah. “Karena backgroundsekolah kami kesehatan, inginnya bisa melayani maksimal,” kata Dea. “Kalau kami dapat berkat atau kemampuan tertentu maka kami harus membaginya kepada orang lain. Kegiatan seperti ini harus diikuti oleh siapapun yang memang punya jiwa relawan,” imbuh Melda, diangguki oleh Dea.

Affan menjelaskan, setelah acara ini pihaknya akan melanjutkan kegiatan dengan menggelar Volunteer Academy atau Kelas Kerelawanan. Kelas ini akan langsung mengarahkan kecenderungan serta skill peserta denganbasic keahlian tertentu sesuai dengan keahliannnya. “Mereka akan belajar menguasai SOP Disaster Emergency Response, apa yang harus mereka lajkukan, bagaimana mereka bisa berkoordinasi dengan aparat dan stakeholder sekitar bencana. Jika mereka bersatu maka mereka bisa menjalankan Total Disaster Management dengan utuh,” ungkap Affan.[]

Penulis: Muhajir
Editor: Bams