ACTNewsBOGOR – Selagi membuka pintu rumah pagi tadi, sudah kah kita sejenak merenung, simak lingkungan sekitar, seberapa banyak kasus bencana sosial yang terjadi sepanjang hari?

Sadar kah kita bahwa masalah pelik mulai dari kemiskinan, rawan pangan, narkoba yang makin marak, kekerasan seksual kepada si belia, sampai pada konflik sosial yang terjadi di kampung sendiri itu terjadi terus berulang sepanjang hari?

Kabar buruknya, kasus-kasus bencana sosial seperti itu makin marak setiap harinya. Tempat kejadiannya bisa jadi hanya berjarak selemparan batu dari depan pintu rumah. Kasus-kasus itu merepitisi dirinya sendiri, bahkan kini dengan gamblangnya bermacam bencana sosial itu menjadi hal yang lumrah dan terlanjur dibiarkan oleh masyarakat di Indonesia.

Satu hal yang sekiranya penting untuk menjadi bahan diskusi menyelesaikan masalah ini adalah dengan memulai mitigasi sosial sesegera mungkin. Logika sederhananya, mitigasi sosial itu dimulai dari keluarga. Dari ruang keluarga, harusnya bencana sosial yang kian marak itu bisa diredam.

Menyimak problem pelik dan tantangan inilah, Disaster Management Insitute of Indonesia (DMII) dan Aksi Cepat Tanggap (ACT) menghadirkan diskusi sore bersama Prof. Euis Sunarti dan Ir. Septiana Murdiani, Ahad (16/7). Dua pemantik diskusi sore itu adalah dua dari sekian pejuang perempuan Indonesia yang telah puluhan tahun mengabdikan dirinya mewujudukan generasi keluarga tangguh di Indonesia.

Dalam diskusi sore yang digelar di Hotel Royal Amaroossa Bogor, dua hal yang menjadi pembahasan adalah konsep program mitigasi sosial dan rencana jangka panjang untuk membangun Keluarga Indonesia Tangguh.

Pemantik diskusi pertama, Ir. Septriana Murdiani adalah seorang ibu rumah tangga yang juga menjadi praktisi pendidikan sejak belasan tahun lalu. Septriana memulai diskusi dengan sebuah pemikiran bertajuk mitigasi sosial.

Menurut paparannya, maraknya bencana sosial yang terjadi tak jauh dari lingkungan rumah sudah bukan lagi menjadi rahasia umum. Tiap keluarga di Indonesia, pasti menyadari tentang dampak dari beragam bencana sosial itu. Kini, upaya yang harus segera dilakukan adalah upaya taktis dan preventif.

“Bencana sosial pun perlu mitigasi sosial. Jantung setiap masalah sosial di Indonesia bahkan dunia adalah keluarga. Keluarga adalah unit terkecil dalam struktur masyarakat. Semua berawal dari keluarga. Dari kepedulian keluarga akan muncul nilai-nilai untuk membentuk keluarga tangguh,” kata Septriana.

Lantas bagaimana cara paling simpel untuk memulai mitigasi sosial dari ruang keluarga? Septriana mengajukan argumen bahwa keluarga bisa dibina dari bermacam upaya. “Misal membina ruang keluarga secara spiritual, emosional, maupun secara kemandirian dan kemampuan ekonomi,” paparnya.

Membangun keluarga tangguh, perlu gerakan yang punya daya ungkit

Dalam diskusi itu, satu hal yang menjadi tantangan adalah upaya membangun keluarga tangguh bukanlah urusan sepele. Upaya tersebut sama sekali bukan hal yang sederhana.

Kenyataan inilah yang diungkapkan oleh Prof Euis Sunarti, seorang profesor satunya-satunya di Indonesia yang membidangi urusan Keluarga Tangguh. Sudah puluhan tahun Prof. Euis menggeluti tantangan ini. Kini setiap harinya Prof. Euis mengabdikan profesinya di Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (Dept IKK) Fakultas Ekologi Manusia (FEM), Institut Pertanian Bogor.

Prof Euis mengatakan, membangun keluarga tangguh itu yang penting adalah tiga upaya; pertama upaya percepatan; kedua upaya terobosan; dan ketiga upaya yang harus memiliki daya ungkit.

“Mengapa demikian? Karena membangun keluarga tangguh dalam lingkup di Indonesia itu benar-benar menjadi tantangan. Tiap daerah dan tiap budaya punya keunikan masing-masing di dalam ruang keluarga mereka. Kuncinya adalah bagaimana menjadikan keluarga menjadi basis kebijakan publik yang bersifat lokal maupun nasional, agar punya daya ungkit yang masif dan menyeluruh di seluruh wilayah di Indonesia,” ungkap Prof Euis.

Selama puluhan tahun turun tangan mengupayakan keluarga tangguh di Indonesia, Prof. Euis menemukan satu hal yang unik. Menurutnya keluarga itu harusnya bisa memengaruhi kualitas lingkungannya menjadi baik. Tapi yang terjadi malah sebaliknya.

“Justru keluarga sebagai unit sosial terkecil malah sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya,” paparnya.

Di ujung diskusi, Prof. Euis menjelaskan tentang pentingnya menyiapkan keluarga tangguh sejak awal sebelum memulai sebuah keluarga baru. “Diawali dari kesiapan pernikahan, ketahanan fisik dan ekonomi, ketahanan sosial, ketahanan psikologis, serta bagaimana berproses transaksi dengan lingkungan,” jelasnya.

Menyikapi tantangan ini, Syuhelmaidi Syukur selaku Senior Vice President Aksi Cepat Tanggap mengatakan bakal menyiapkan program masif dengan skala yang luas, untuk memulai langkah awal menyiapkan keluarga tangguh di tiap daerah di Indonesia.

“Bekerjasama dengan Prof Euis dan Ir Septriana ini harus menjadi gerakan masyarakat, kita butuh komunikasi yang masif untuk menguatkan keluarga Indonesia. Lewat kelembagaan yang kuat, kita akan menyusun langkah-langkahnya. Kita punya Disaster Management Insitute of Indonesia (DMII), ACT Insya Allah akan berikhtiar melakukan mitigasi sosial ini dengan visi misi yang kuat,” ungkap Syuhelmaidi. []