KOTA PALU – Dari atas pesawat, penampakan Kota Palu begitu memikat. Kota itu hidup di tepian teluk yang menyempit tajam. Dari utara, air laut masuk menyempit menjadi teluk, dikira-kira menggunakan peta digital, panjang Teluk Palu mencapai kurang lebih 40 kilometer. Laut dibendung oleh alam. Bentangan lembah tinggi menjulang menjadi dinding alami di sebelah kanan dan kiri teluk. Di ujung teluk, Kota Palu menghidupi dirinya sebagai sebuah Kota Administratif yang makin hari makin semarak.

Jelang sore, bukit tinggi di kanan kiri Teluk Palu pun menenangkan. Kabut tipis menutup puncak Bukit Barat dan Bukit Timur, seakan menjaga kokoh Kota Palu dari sisi kanan dan kiri. Bukit yang memanjang di sebelah barat memiliki ketinggian puncak 2.200 meter (Puncak Gunung Gawalise). Sementara di bukit sebelah timur yang lebih landai memiliki ketinggian puncak 1.900 meter.

Meski Kota Palu dikelilingi oleh bentangan alam yang memikat, namun di bagian tengah lembah itu tersembunyi sebuah jejak memanjang, dari Kota Palu ke arah selatan, dikenal dengan nama Sesar (patahan) Palu-Koro, salah satu sesar gempa teraktif di dunia.

Beragam kajian geologi dan analisis kegempaan menyebutkan, panjang keseluruhan jalur sesar Palu Koro sekira 500 km. Sesar ini memotong Kota Palu hampir tegak lurus mengarah dari utara ke selatan. Jalur Sesar Palu Koro di daratan mempunyai panjang kurang lebih 250 km, membelah tengah Kota Palu, mengikuti alur Sungai Palu, sampai ke selatan melewati Kecamatan Kulawi, Desa Gimpu dan Desa Gintu di Kabupaten Sigi, hingga berakhir di Teluk Bone.

Menyimak status kegempaannya yang sangat aktif, bisa dibilang Sesar Palu Koro membawa eksotisme bentang alam namun bersembunyi pula kekhawatiran besar. Beragam catatan sejarah sekian dekade silam merekam bagaimana dampak gempa besar dengan skala di atas >7 skala richter pernah menjadi cerita duka. Cerita yang dikisahkan ulang turun temurun dari generasi ke generasi. Cerita tentang gempa yang menggoyang semua rumah, membuat ambruk rumah-rumah.

Bahkan cerita tentang gempa besar yang lantas memicu gelombang pasang besar, biasa dikenal dengan tsunami. Warga lokal di sepanjang Sesar Palu Koro mengenalnya dengan nama: Air Laut Berdiri.

 

Jejak gempa besar dari sesar Palu Koro

Bagi peneliti geologi, Pulau Sulawesi adalah keunikan bentang alam yang tersembunyi. Percaya atau tidak, fakta ilmiah menyatakan proses geologi yang begitu rumit dan kompleks selama puluhan juta tahun telah membentuk Pulau Sulawesi menyerupai huruf K. Sekian puluh juta tahun silam, Sulawesi hanyalah berupa empat pulau mengapung. Kemudian pulau itu bergerak menjadi satu.

Empat pulau mengapung itu bergerak dalam pergerakan sentimeter per tahun. Pergerakannya dibawa oleh tiga lempeng besar yakni Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Pasifik. Juga dipengaruhi oleh pergerakan lempeng Filipina yang lebih kecil dari arah Timur Laut.

Rumit dan kompleksnya proses tektonik pembentukan Pulau Sulawesi ini pula yang akhirnya menyebabkan terbentuknya sesar yang merobek dan melintang-lintang di Pulau Sulawesi. Ilmu geologi masa kini mengenal setidaknya ada 9 sesar terbesar yang membuat Sulawesi dikepung oleh gempa. Sesar tersebut meliputi Sesar Palu Koro, Sesar Poso, Sesar Matano, Sesar Lawanopo, Sesar Walanae, Sesar Gorontalo, Sesar Batui, Sesar Tolo, dan Sesar Makassar.

Seorang ahli Geolog dari LIPI, Danny Hilman pernah mengatakan, Sesar Palu Koro dan Sesar Matano menyimpan energi guncangan gempa yang besar. “Rambatan gempa yang diakibatkan pergerakan Sesar Palu Koro dan Sesar Matano sudah berada di level tertinggi. Setara dengan akselerasi gravitasi 0,6 G. Kalau sudah 0,6 G levelnya sudah sangat parah,” kata Danny.

Membuka lagi catatan sejarah gempa-gempa besar yang terjadi di Pulau Sulawesi, banyak gempa besar tercatat diakibatkan oleh pergerakan Sesar Palu Koro. Misalnya tahun 1828 silam, sesar Palu Koro pernah mengguncangkan Sulawesi Tengah dan sekitarnya dengan kekuatan 7,9 SR, kala itu korban meninggal tidak pernah tercatat, namun cerita masyarakat turun temurun menyebut jumlah korban yang tidak sedikit.

Setelah seismograf ditemukan dan ilmu tentang gempa bumi mulai berkembang, catatan gempa di sekitar sesar Palu Koro terekam lebih detail. Tepat 90 tahun silam, atau tepatnya tanggal 1 Bulan Desember tahun 1927, di tengah laut sebelah barat Kota Palu dan Donggala, gempa besar mengguncang. Hikayat masyarakat lokal Palu mengenang kala itu air laut sampai naik setinggi kurang lebih 15 meter. “Saat itu, masyarakat lokal turun temurun berkata, air laut berdiri,” ungkap Abdullah, seorang peneliti gempa bumi dari Jurusan Fisika, Fakultas MIPA Universitas Tadulako.

Ada pula catatan gempa besar di tahun 1938 dengan episentrum di daratan sekitar Kecamatan Kulawi. Gempa Palu Koro tahun 1938 terekam seismograf pada skala guncangan 7,9 skala richter. Lalu berselang 30 tahun berikutnya, di tanggal 15 Agustus tahun 1968 sesar Palu Koro kembali menimbulkan gempa besar setara dengan 7,4 skala richter. Episentrumnya berada di wilayah Pantai Barat Kabupaten Donggala. Gempa tahun 1968 kembali memunculkan tsunami besar setinggi 10 meter.

Historis gempa paling dekat yang terekam berupa guncangan Sesar Palu Koro di tahun 1996 (7,9 skala richter), juga di tahun 2012 kemarin dengan skala 6,1 skala richter dengan episentrum di dekat Danau Lindu, Kabupaten Sigi.

Ekspedisi Palu Koro: Jelajahi Jejak Palu Koro, Menguak Sulawesi dari Beragam Sisi

Meski punya catatan gempa yang tak bisa dianggap kecil, memicu tsunami, bahkan dikenang dalam budaya lokal masyarakat secara turun temurun, tapi kenyataannya riset dan dokumentasi tentang Palu Koro minim jumlahnya. Palu Koro tak begitu banyak dikenal oleh masyarakat, Palu Koro hanya menjadi perbincangan kecil dalam diskusi dari rumah ke rumah, dari warung kopi ke warung kopi.

Bahkan generasi kekinian masyarakat Palu sekalipun, Palu Koro hanya dikenal namanya. “Jarang warga di Palu yang paham lebih jauh tentang Palu Koro. Kebanyakan hanya mengerti cerita dari turun temurun. Tentang bagaimana sejarah pergerakan gempanya, apalagi mengetahui bagaimana upaya mitigasinya hampir nihil dipahami,” ungkap Abdullah.

Berangkat dari upaya inilah, Aksi Cepat Tanggap (ACT) berkolaborasi dengan beragam pihak menginisiasi sebuah langkah pasti dengan tajuk Ekspedisi Palu Koro. Kolaborasi lintas keahlian ini digagas bersama oleh ACT, SKALA, Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Planas PRB, dan DisasterChannel.co.

”Masih sangat sedikit dokumentasi dan hasil riset tentang Palu Koro, kalaupun ada masih sangat scientific banget. Itulah kenapa kami lantas punya ide untuk melakukan ekspedisi Palu Koro,’’ kata Trinirmalaningrum, direktur Skala, sebuah perkumpulan yang bergerak di bidang riset dan kampanye untuk program pengurangan bencana dan pembangunan berkelanjutan.

Sesuai gariswaktu (timeline) yang sudah direncanakan, Ekspedisi Palu Koro kolaborasi ACT dan berbagai pihak lintas keahlian akan dimulai di bulan Agustus tahun 2017. Namun sebelum menjalankan ekspedisi di Agustus nanti, pra ekspedisi sudah mulai digulirkan.

Pekan ketiga Mei ini ACT dan beragam pihak yang terlibat sudah berada di Palu untuk melengkapi data-data awal, mencari titik-titik penting untuk memetakan jalur ekspedisi, dan berbincang dengan saksi hidup warga lokal sepanjang sesar Palu Koro.

“Data akhir dari riset ini nantinya akan digunakan ACT dan beragam pihak yang terkait untuk menyusun langkah strategis mitigasi bencana, mengurangi dampak kemungkinan gempa besar Palu Koro di tahun-tahun berikutnya. Serangkai film dokumenter yang merekam Ekspedisi Palu Koro pun akan ditampilkan di Bulan Desember 2017, bersamaan dengan peringatan 90 tahun gempa dan tsunami besar di Palu tanggal 1 Desember tahun 1927” ungkap Insan Nurrahman, Vice President Aksi Cepat Tanggap.