ACTNews, GARUT – Melalui Direktorat Disaster Management Institute of Indonesia/DM11, yang merupakan salah satu Direktorat di ACT yang mengelola best practise manajemen penanggulangan bencana sekaligus sebagai pusat study, data dan informasi kebencanaan Indonesia, terus menggelar sosialisasi ke berbagai elemen masyarakat.

DMII dirancang sebagai mitra masyarakat dalam mengurangi resiko bencana, yang bekerja dengan konsep Total Disaster Management (TDM) khususnya konsentrasi pada tahap preventif, mitigasi dan kesiapsiagaan.

Mitigasi bencana dilakukan dalam rangka mengurangi resiko bencana sebagai bentuk tindakan preventif menyiapkan masyarakat atau komunitas siap dalam menghadapi bencana sehingga mengurangi dampak/resiko apabila terjadi bencana. Konsep yang dikembangkan berbasis komunitas masyarakat, komunitas sekolah, kelembagaan pemerintah daerah dari tingkat desa, serta masyarakat di sekitar korporat khususnya yang industri dengan resiko bencana.

Dari edukasi DMII tersebut menghasilkan beberapa komunitas siagabencana di berbagai elemen masyarakat, salah satunya terbentuknya Komunitas Siaga Bencana (KSB) di setiap lingkungan masyarakat di berbagai daerah, di lingkungan beberapa lembaga pendidikan juga sudah terbentuk Sekolah Siaga Bencana/SSB.

SSB adalah program berbasis sekolah dalam rangka membangun kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana di Indonesia. Program ini bertujuan menggugah kesadaran seluruh unsur, baik individu maupun kolektif, di sekolah dan lingkungan sekolah agar memahami dan siap menghadapi bencana yang mungkin terjadi.

Menurut Manajer DMII – ACT, Wahyu Novyan, pembetukan SSB ini sebagai bentuk dukungan pada implementasi Peraturan Kepala (Perka) BNPB No. 4 tahun 2012 tentang Pedoman Penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana. Program ini bertujuan membangun sekolah yang memiliki sistem manajemen bencana dan memungkinkan sekolah memiliki kesiapsiagaan terhadap bencana.

Program SSB ini hingga sekarang terus disosialisasikan di berbagai daerah, salah satunya di lakukan oleh Tim DMII-ACT pada Selasa (8/11), dengan menggelar kegiatan SSB di SMKN 5 Garut yang dihadiri oleh 19 orang perwakilan dari SMKN 5 Garut dan SMAN 28 Garut.

Pada beberapa bulan sebelumnya, sebanyak 20 sekolah tingkat SLTA di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan mengikuti Program SSB selama kurang lebih 3 bulan. Namun kali ini, program lebih ditujukan untuk meningkatkan kapasitas manajemen berbasis organisasi sekolah, mengembangkan sayapnya ke Garut.

Dalam sambutannya, Wahyu Novyan mengungkapkan Garut memiliki potensi bencana yang sangat besar, karena secara geografis dikelilingi oleh tiga gunung berapi. Selain itu, Garut juga bersinggungan dengan pantai selatan yang berpotensi tsunami.

Kegiatan SSB ini mendapat respon baik dari Anang selaku  Kepala Sekolah SMKN 5 Garut, Ia  sangat mengapresiasi program SSB ini. Menurutnya lokasi SMKN 5 Garut merupakan lokasi yang rawan terjadi bencana.

“Kegiatan ini sangat kita apresiasi, sebab di SMKN 5 Garut itu adalah lokasi yang boleh dikatakan rawan bencana. Banyak saksi-saksi dari rekan-rekan Guru SMKN 5 Garut yang pernah mengalami pengalaman bencana terutama angin ribut dan banjir dari sungai.”

Selain itu, Gunawan selaku Kepala Sekolah SMAN 28 Garut berharap program SSB ini dapat bermanfaat bagi siswa serta dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya disekolah tetapi di tempat tinggalnya masing-masing.

Ubaidillah, selaku Trainer DMII menjelaskan bahwa Program SSB Garut hampir sama dengan SSB sebelumnya yang diadakan di DKI Jakarta, namun SSB di Garut ini dipadatkan durasinya menjadi dua pekan. Program ini bertujuan untuk mengurangi risiko bencana di Sekolah.

“Program Sekolah Siaga Bencana (SSB) ini sebagai upaya untuk mengurangi risiko bencana di Kabupaten Garut khususnya Garut Selatan karena Kabupaten Garut menjadi salah satu Kabupaten yang memiliki potensi bencana yang sangat tinggi (multi-hazard) sehingga program ini menjadi upaya kami untuk mengurangi risiko bencana khususnya bagi pelajar,” pungkasnya. []

Penulis: Erry Septiadi (Tim Cyber Humanity Volunteer/CHV)
Editor: Muhajir Arif Rahmani