Selama ini pelatihan survival hanya ditujukan bagi orang-orang yang berkegiatan di alam bebas. Namun pada dasarnya masyarakat urban-perkotaan juga membutuhkan pelatihan survival atau yang disebut Urban Survival. Di negara-negara Eropa, mereka telah banyak menggelar pelatihan bersifat survival kepada segenap masyarakat perkotaannya.

Disaster Management Institute of Indonesia (DMII) bersama Aksi Cepat Tanggap (ACT) menggelar untuk kali perdana program Urban Survival Training pada Sabtu (20/1) yang dilaksanakan di Universitas Terbuka, Tangerang Selatan.

Pelatihan ini dihadiri oleh 25 peserta, dimana peserta merupakan dari kalangan masyarakat luas dan juga dari relawan.

Irawan Wahyudi, selaku Instruktur menjelaskan Urban Survival Training merupakan program yang bertujuan agar individu mampu bertahan dikala kondisi kritis yang diakibatkan bencana alam dan sosial dalam ruang lingkup perkotaan.

“Kegiatan ini sangat penting bagi kita khususnya orang-orang yang tinggal diperkotaan karena kejadian-kejadian tersebut pasti kita alami. Misalnya, kondisi ketika kita pulang kerja melewati lorong yang sempit lalu tiba-tiba diserang. Atau bagaimana kita harus bertahan hidup ketika tiba-tiba ada gempa ataupun kebakaran?Mau tidak mau kita harus tahu apa yang mesti kita lakukan dan bagaimana kita mampu melewati kondisi tersebut,” jelas Irawan.

Sementara Ujang D. Lasmana, instruktur lain menambahkan bahwa poin terpenting dalam Urban Survival Training ialah individu mampu menyelamatkan dirinya sendiri lalu membantu orang lain. Selain itu, masyarakat urban mampu mempunyai semangat untuk hidup dan kreatif menggunakan alat-alat yang berada disekitarnya demi bertahan hidup serta membantu sesama.

“Pelatihan ini mengajarkan bagaimana kita survive, bagaimana melakukan pertolongan pertama secara taktis terlebih bagi diri sendiri. Misalnya ketika terjadi gempa dan kita tertimpa reruntuhan, lantas bagaimana kita bertahan hidup? Pertama kita harus sediakan selalu air untuk tetap bertahan dengan mencegah dehidrasi. Kemudian kita dapat gunakan media seperti cincin batu. Cincin tersebut akan membantu untuk memberi informasi kepada tim evakuasi bahwa kita terjebak dengan cara mengetuk-ngetukan batu agar terdengar,” imbuh Ujang.

Ujang juga mempraktekan pertolongan pertama menggunakan media yang ada disekitar, contohnya ketika terjadi perdarahan, dapat menggunakan alat sederhana seperti buff dan kaos yang kita pakai atau ketika mengalami patah tulang dapat menggunakan media seperti majalah.

Selain teknik survival, pertolong pertama secara taktis, masyarakat urban juga harus membekali diri mereka dengan self defense, sebuah ilmu bela diri taktis untuk menghadapi ancaman yang terjadi di sekitarnya. Di penghujung pelatihan, para peserta diajarkan praktek bagaimana melakukan self defense.

“Pelatihan ini banyak manfaat karena kehidupan kita sehari-hari diperkotaan ini banyak tantangan dan resiko.Dari pelatihan ini kita menambah sedikit ilmu untuk menghadapi hal-hal yang demikian tadi. Yang menarik adalah self defense, beladiri praktis untuk menghadapi kejadian sehari-hari seperti perampokan, begal, pelecehan seksual, dan sebagainya,” ungkap Daryadi, salah seorang peserta. [Erry S.]