PANGKALPINANG – Ancaman banjir kerap menghantui warga Kota Pangkalpinang tatkala musim penghujan tiba. Dalam kurun waktu dua tahun terakhir saja, sudah tiga kali banjir besar menghantam wilayah yang merupakan bagian dari Kepulauan Bangka Belitung ini. Terakhir adalah awal Januari lalu, ketika banjir merendam pemukiman warga dengan kedalaman hingga 50 sentimeter.

Kota Pangkalpinang memang berpotensi besar terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir dan puting beliung. Hal ini mengingat daratan Pangkalpinang dikelilingi laut. Ditambah dengan kondisi Sungai Rangkui dan sistem drainase yang kurang memadai, banjir menjadi sebuah ancaman bencana yang mesti ditanggulangi bersama.

Untuk membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana tersebut, Aksi Cepat Tanggap (ACT) berkolaborasi dengan Sampoerna untuk Indonesia menggelar Pelatihan dan Lokakarya Sistem Komando Tanggap Darurat (SKTD). Acara tersebut diselenggarakan selama tiga hari bertutur-turut, Selasa (18/7) hingga Kamis (20/7). Bertempat di Gedung Serbaguna Kodim 0413 Bangka, pelatihan ini dihadiri oleh 80 orang peserta yang berasal dari Perwakilan SKPD, dunia usaha, dan unsur masyarakat.


Vice President ACT Insan Nurrohman mengungkapkan, pelatihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas para pemangku kepentingan dalam penanggulangan bencana Kota Pangkalpinang di fase tanggap darurat.

“Ada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait, ada lembaga lokal yang memiliki perhatian terhadap penanggulangan bencana, khususnya banjir, akademisi, dunia usaha dan juga komunitas masyarakat. Total ada sekitar 80 orang peserta hadir di pelatihan dan lokakarya ini,” papar Insan.

Sementara itu, Ervin Pakpahan selaku Head of Regional Relation, CSR & Stakeholders Relation Sampoerna  memaparkan, pelatihan sekaligus lokakarya mengenai kesiapsiagaan bencana hasil kolaborasi dengan ACT merupakan salah satu wujud tanggung jawab sosial perusahaan.

“Dengan program pelatihan ini, diharapkan ada semangat bersinergi di lingkup kota Pangkalpinang, baik pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Jadi, kami ikut berkontribusi dalam membangun kota Pangkalpinang yang tangguh terhadap bencana,” ujar Ervin.


Dukungan dan apresiasi positif disampaikan oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pangkalpinang Mikron Antariksa, A.Ks., M.Si. Ia sangat mendukung program kesiapsiagaan tersebut yang diselenggarakan di Kota Pangkalpinang.

“Ini agar tercipta mekanisme koordinasi lintas sektor dalam penanggulangan bencana,” tutur Mikron.

Hal senada disampaikan oleh Komandan Kodim 0413 Bangka, Letkol Daniel Nainggolan, disela-sela lokakarya SKTD. Dengan adanya program tersebut, ia berharap koordinasi lintas sektor dalam penanggulangan bencana menjadi lebih baik.

Pelatihan di Kota Pangkalpinang ini merupakan rangkaian pamungkas dari Program Disaster Emergency Response Command System and Tree Planting 6 kota di Pulau Sumatera. Sebelumnya, program serupa telah dilaksanakan di Bukittinggi, Bengkulu, Banda Aceh, Palembang, dan Pekanbaru.

Selain pelatihan dan lokakarya, program ini juga mencakup penanaman 2.000 bibit pohon kayu dan buah, serta pendistribusian 40 bak sampah